Jumat, 02 Maret 2018

Filsafat Pendidikan



FILSAFAT PENDIDIKAN
MANUSIA DAN KEBENARANNYA




Disusun Oleh:
Kelompok 1
Fitra  ( A 241 15 036 )
Debora Tresia Purba  ( A 241 15 091 )
Puput Amanda Wizahfitri ( A 241 15 103 )
Andi Siti Nurhaya Hafis ( A 241 15 106 )


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam memahami materi filsafat pendidikan. Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.



Penyusun


Kelompok 1







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB 1 PENDAHULUAN
      1.1      Latar Belakang.......................................................................................... 1
      1.2      Rumusan Masalah..................................................................................... 2
      1.3      Tujuan Penulisan...................................................................................... 3
      1.4      Metode Penulisan..................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
      2.1      Pengertian ManusiadanKebenaran........................................................... 4
      2.2      Cara MencariKebenaran........................................................................... 8
A.    KebenaranAgama................................................................................ 8
B.    KebenaranFilsafat............................................................................... 9
C.    KebenaranIlmuPengetahuan............................................................... 10
BAB III PENUTUP
      3.1      Kesimpulan............................................................................................... 14
      3.2      Saran......................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 16

 



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti. Ilmu pengetahuan harus dibedakan dari fenomena alam. Fenomena alam adalah fakta, kenyataan yang tunduk pada hukum-hukum yang menyebabkan fenomena itu muncul. Ilmu pengetahuan adalah formulasi hasil aproksimasi atas fenomena alam atau simplifikasi atas fenomena tersebut.
Struktur pengetahuan manusia menunjukkan tingkatan-tingkatan dalam hal menangkap kebenaran. Setiap tingkat pengetahuan dalam struktur tersebut menunjukkan tingkat kebenaran yang berbeda. Pengetahuan inderawi merupakan struktur terendah dalam struktur tersebut. Tingkat pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan rasional dan intuitif. Tingkat yang lebih rendah menangkap kebenaran secara tidak lengkap, tidak terstruktur, dan pada umumnya kabur, khususnya pada pengetahuan inderawi dan naluri. Oleh sebab itulah pengetahuan ini harus dilengkapi dengan pengetahuan yang lebih tinggi. Pada tingkat pengetahuan rasional-ilmiah, manusia melakukan penataan pengetahuannya agar terstruktur dengan jelas.
Filsafat ilmu memiliki tiga cabang kajian yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi membahas tentang apa itu realitas. Dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan, filsafat ini membahas tentang apa yang bisa dikategorikan sebagai objek ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, realitas hanya dibatasi pada hal-hal yang bersifat materi dan kuantitatif. Ini tidak terlepas dari pandangan yang materialistik-sekularistik. Kuantifikasi objek ilmu pengetahuan berari bahwa aspek-aspek alam yang bersifat kualitatif menjadi diabaikan. Epistemologis membahas masalah metodologi ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan modern, jalan bagi diperolehnya ilmu pengetahuan adalah metode ilmiah dengan pilar utamanya rasionalisme dan empirisme. Aksiologi menyangkut tujuan diciptakannya ilmu pengetahuan, mempertimbangkan aspek pragmatis-materialistis.
Dari semua pengetahuan, maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologinya telah jauh lebih berkembang dibandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lain, dilaksanakan secara konsekuen dan penuh disiplin. misalnya hukum-hukum, teori-teori, ataupun rumus-rumus filsafat, juga kenyataan yang dikenal dan diungkapkan. Mereka muncul dan berkembang maju sampai pada taraf kesadaran dalam diri pengenal dan masyarakat pengenal. Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasa, etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akal budi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akal budi yang menyatakannya.

1.2.      Rumusan Masalah
Dalam makalah ini ada beberapa masalah yang akan dibahas, agar pembahasan dalam makalah ini tidak lari dari judulnya ada baiknya kita rumusan masalah-masalah yang akan di bahas, antara lain :
1.     Apakah Pengertian dari Manusia?
2.     Apakah Pengertian dari Kebenaran
3.     Bagaimana cara mencari kebenaran itu sendiri?
1.3.      Tujuan Penulisan
Adapun manfaat pembuatan makalah ini adalah :
1.     Agar mahasiswa mampu mengetahui pengertian Manusia dan Kebenaran.
2.     Mahasiswa mampu menjelaskan bagaimana cara mencari kebenaran tersebut.

1.4.      Metode Penulisan
Metode yang digunakan penulis adalah metode kepustakaan yaitu memberikan gambaran tentang materi-materi yang berhubungan dengan permasalahan melalui literatur buku-buku yang tersedia, tidak lupa juga penulis ambil sedikit dari media massa/internet. Dan diskusi mengenai masalah yang dibahas dengan teman-teman.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.      Pengertian Manusia dan Kebenaran.
Manusia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi atas segala sesuatu, sehingga secara alamiah manusia berpikir untuk mencari kebenaran. Dimana dengan pemikiran itu maka terciptalah pengetahuan. Pengetahuan tidak hanya tercipta dari suatu pemikiran manusia saja, pengetahuan juga ada yang berasal dari pengalaman hidup manusia.
Mencintai pengetahuan adalah awal proses manusia mau menggunakan daya pikirnya, sehingga mampu membedakan mana yang riil dan mana yang ilusi. Orang Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng dan takhayul. Seiring dengan perkembangan zaman, kemudian berubahlah pola pikir orang-orang terdahulu menjadi pola pikir yang berdasar pada pengalaman, rasio dan dibuktikan kebenarannya dengan penelitian.
Hal ini bisa dimengerti karena manusia memang makhluk yang kompleks, yang tidak sederhana. Manusia adalah makhluk yang “misterius”, yang selalu menarik untuk dikupas dan dibicarakan (Setiardja, 2005: 21).
Jika kita melihat kembali pada sejarah filsafat manusia dapat kita temukan jawaban mengenai manusia dari berbagai aliran. Aliran yang pertama adalah aliran materialisme belaka (ekstrim) yang dipelopori oleh Junalien Offray de Lamettrie yang hidup pada tahun 1709-1751. Menurut aliran ini manusia adalah materia belaka. Aliran ini mengingkari kerohanian dalam bentuk apa pun, bahkan mengingkari adanya pendorong hidup. (Poedjawijatna,1997:165-166). Aliran lain yang dapat digolongkan dalam materialisme adalah darwinisme meskipun aliran ini kurang ekstrim. Aliran ini berpendapat bahwa manusia tidak ada bedanya dengan binatang, segala tindak tanduk manusia itu ditentukan oleh alam.
Materialisme belaka ternyata tidak dapat memuaskan, terutama mengenai perubahan-perubahan yang sukar dapat dimasukkan kerangka kejasmanian. Orang mulai menyadari bahwa manusia bukanlah mesin, ada kesatuan di dalamnya, ada pendorong untuk bertindak dan untuk hidup pada umumnya. Aliran ini disebut antropologia vitalitas. Aliran yang dapat digolongkan ke dalam aliran filsafat manusia yang vitalistis adalah marxisme. Marxisme berpendapat bahwa perkembangan masyarakat atau sejarah tak lain adalah perkembangan bahan. Cenderung hidup itulah yang menyebabkan manusia hendak terus ada dan terus berkembang. Makan, minum, dan pakaian merupakan kerangka hidup, dengan demikian manusia adalah sama dengan binatang karena mempunyai kebutuhan yang sama. Letak perbedaan manusia dengan binatang adalah usaha manusia menghasilkan keperluan hidupnya. Usaha ini dilakukan dengan menggunakan alat. Aliran ini sampai pada kesimpulan adanya pendorong hidup pada manusia, akan tetapi pendorong ini tak lain adalah materia. Meskipun mengakui adanya perbedaan antara manusia dengan binatang, tetapi aliran ini tidak menerangkan penyebab perbedaan tersebut.
Aliran marxisme ditentang oleh idealisme. Jika marxisme amat mengutamakan jasmani, maka idealisme amat mengutamakan roh, sehingga jasmani kurang dihargai. Tokoh aliran idealisme adalah Fichte, Schelling, dan Hegel. Aliran yang mempertemukan kedua aliran ini adalah eksistensialisme. Menurut aliran ini cara manusia ada di dunia itu khusus. Manusia menyatu dengan dunia.
Dalam cahaya kesadarannya manusia melihat dirinya sendiri terhadap realitas yang bukan “aku”. Dalam tangkapan yang pertama yang nampak ialah perbedaan antara aku dan dan realitas sekitarku: tetapi sebenarnya di samping keduaan antara manusia dan dunia, manusia dan dunia itu juga merupakan kesatuan. (Setiardjo, 2005:23)
Manusia adalah makhluk berbadan jasmani dan berjiwa rohani. “manusia menjasmanikan diri dalam alam jasmani: makan, minum, bernafas, tidur, tetapi manusia juga memanusiakan dan merohanikan alam jasmani dengan mengangkatnya ke dalam dan ke tinggian eksistensinya yang manusiawi. Manusia memiliki transedensi, memiliki keunggulan untuk mengatasi struktur alam jasmani. (Setiardjo, 2005:24)
Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha "memeluk" suatu kebenaran.Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya. Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan system.
Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah berkata: "Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; "Kebenaran itu adalah kenyataan", tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran (keburukan).
Dalam bahasan, makna "kebenaran" dibatasi pada kekhususan makna "kebenaran keilmuan (ilmiah)". Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.
Selaras dengan Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.
Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia.
Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya.
Menemukan jawaban yang salah terhadap masalah asasi (manusia, alam dan  Tuhan) akan berakibat fatal bagi kehidupan umat manusia tersendiri. Oleh karenanya persoalan penting dan mendasar adalah dengan cara apa manusia mencari jawaban atau mencari kebenaran itu. Atau dengan kata lain manusia menemukan kebenaran itu menggunakan cara seperti apa.
2.2.      Cara Mencari Kebenaran
Ada tiga cara manusia mencari dan menemukan kebenaran yaitu dengan Agama, Filsafat dan Ilmu pengetahuan.
A.     Kebenaran Agama
Kebenaran agama yang ditangkap dengan seluruh kepribadian, terutama oleh hati nurani merupakan puncak kesadaran manusia. Hal ini bukan saja karena sumber kebenaran itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa supernatural melainkan juga karena yang menerima kebenaran ini adalah satu subyek dengan integritas kepribadian. Nilai kebenaran agama menduduki status tertinggi karena wujud kebenaran ini ditangkap oleh integritas kepribadian. Seluruh tingkat pengalaman, yakni pengalaman ilmiah, dan pengalaman filosofis terhimpun pada puncak kesadaran religius yang didalam kebenaran ini mengandung tujuan hidup manusia dan sangat berarti untuk dijalankan oleh manusia.
Manusia bisa mengetahui  kebenaran  mutlak, karena manusia dibekali tidak hanya indera dan rasio, namun juga akal budi, hati nurani, intuisi, iman, dan rasa  yang  menjadi  satu  entitas  jiwa  yang  utuh  di  dalam  diri  manusia.  Manusia  bisa  mengetahui bahwa   dirinya   manusia,   dan  mampu   membedakan   dirinya   dari  kuda,   ayam,   pohon,   air,  dan sebagainya    pun   dapat   disebut    sebagai   kebenaran    mutlak.   Sebenarnya    banyak   kebenaran- kebenaran  sederhana  dan mendasar  yang bernilai mutlak yang kita ketahui, dan mungkin saja ada jauh lebih banyak lagi kebenaran-kebenaran mutlak yang tidak kita ketahui di dunia ini.
Di dalam Islam terdapat dua istilah yang berbeda untuk kebenaran mutlak yang berasal dari wahyu (al- haqq) dan kebenaran relatif yang berasal dari pemikiran dan interpretasi  (al-shawwab).  Perbedaan- perbedaan  pendapat  di dalam ranah al-shawwab,  sebagai  contoh perbedaan  empat mazhab  fikih, diakui  dan  diterima   keberadaannya   setelah  melewati  uji  validitas  berdasarkan   sumber-sumber hukum utama. Sementara itu, penyimpangan yang mendasar terhadap al-haqq, seperti meniadakan Tuhan, dianggap batil dan keliru. Inilah tingkatan kebenaran. Dalam Islam, kebenaran itu bersumber dari Allah melalui wahyu-Nya. Islam menafikan kebenaran relatif.
Kebenaran agama bersifat mutlak karena itu berasal dari Allah SWT. Manusia memperoleh kebenaran agama dengan melihat kitabsuci, apa yang dikatakan benar oleh kitab suci adalah benar, dan apa yang dikatakan salah oleh kitab suci adalah salah.
B.    Kebenaran Filsafat
Kata filsafat atau falsafah berasal dari bahasa yunani “philosophia”. Secara etimologi berarti cinta pengetahuan atau cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kebijaksanaan disebut philosophas atau failosuf (filsuf). Pecinta kebijaksanaan atau pengetahuan disini maksudnya ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya atau dengan kata lain orang yang mengabdikan hidupnya kepada pengetahuan. Para pakar berbeda dalam memutuskan batasan filsafat misalnya plato (427-347 SM), filsuf yunani ini menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles (384-322 SM), murid plato menyatakan bahwa filsafat itu ialah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Al-Farabi (870-950 M) seorang filsuf muslim memberikan definisi filsafat ialah pengetahuan alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya (al-‘ilm bi al-maujudat bima hiya maujudat).
Harun Nasution sebagai pakar filsafat Indonesia memberikan definisi filsafat ialah pengetahuan tentang hikmat, pengetahuan tenteng prinsip atau dasar-dasar tentang hal yang dibahas. Intisari filsafat ialah berpikir menurut tata tertib logika dengan bebas tanpa terikatpada tradisi, dogma serta agama dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan. Hasbullah Bakry, penulis Sistematik Filsafat menjelaskan bahwa filsafat ialah ilmu yang menyelidiki tentang segala sesuatu yang mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikat sejauh yang dapat dijangkau oleh akal manusiadan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Dari definisi-definisi yang ditampilkan diatas dapat disimpulkan secara singkat bahwa filsafat ialah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, yaitu usaha manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematik hakikat segala yang ada, yaitu hakikat Tuhan, alam, dan manusia.
Endang Saifuddin Anshari menjelaskan bahwa filsafat tidak menghasilkan keyakinan oleh karena alat filsafat satu-satunya yang dipakai adalah akal. Sedangkan akal hanyalah satu bagian dari rohani manusia dan tidak mungkin mengetahui sesuatu keseluruhan hanya dengan satu bagian. Maka keseluruhan kebenaran dapat diketahui dengan seluruh rohani manusia (perasaannya, akalnya, intuisinya, nalurinya). Karena satu-satunya alat yang digunakan dalam filsafat ialah akal yaitu satu bagian dari rohani manusia, kiranya belum mampu menjangkau keseluruhan kebenaran tentang manusia, alam dan Tuhan. Dengan kata lain kebenaran yang dicapai filsafat adalah tidak mutlak atau nisbi.
Plato dan Aristoteles  menolak pemikiran  kaum sofisme. Mereka percaya bahwa ada kebenaran   yang  bersifat  universal.   Di  masa  kini,  ketika  segalanya   dipandang   dalam  kerangka perubahan  dan perkembangan,  tampaknya  kebenaran  pun tidak luput dari kerangka pemikiran  ini. Kebenaran  lantas  dipandang  tak pernah  final  dan  tak pernah  mutlak.  Manusia  pun semakin  ragu terhadap ada tidaknya kebenaran yang melintasi batas ruang dan waktu, tak terikat oleh zaman dan tempat.  Padahal  ada  postulat-postulat  yang  terus  berlaku  sepanjang  masa  yang  terkadang  luput dari kesadaran  manusia  itu sendiri.  Kenyataan  bahwa  setiap yang  bernyawa  akan mati juga sejak zaman batu hingga zaman sekarang masih tetap, tak berubah mengikuti tempat dan waktu.
C.    Kebenaran Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan atau disingkat ilmu, berasal dari kata arab ‘ilm masdar dari kata ‘alima yang artinya pengetahuan. Ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindra, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memerhatikan objek, cara dan kegunaannya, pengetahuan ini disebut knowledge. Pengetahuan ilmiah juga merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu dengan memerhatikan objek yang ditelaah. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memerhatikan objek antologis, epistemologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan ilmiah inilah yang disebutilmu atau science.
Sebagaimana dikatakan di atas bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Walaupun demikian manusia mempunyai keterbatasan dalam kemampuan-kemampuan, terutama dengan budinya. Manusia tidak mungkin tahu segala-galanya. Namun dengan budi dan karsanya manusia adalah transenden, artinya mengatasi struktur alam jasmani ini. Ia dapat berpikir dan bercita-cita, berkeinginan secara melampaui ruang dan waktu. Ia dapat berpikir tentang keadaan ribuan tahun yang lalu dan ribuan tahun mendatang. Ia dapat mengetahui keadaan atau situasi yang jaraknya ribuan kilometer dari tempat ia berada. Berkat budi dan karsanya manusia transenden , penuh dinamika, namun maretialitasnya membatasi aktivitas-aktivitas manusia. Sebagai makhluk transenden manusia penuh dinamika, maka dia tidak puas dengan pengetahuan yang sederhana yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari. Manusia berusaha mencari pengetahuan yang tersusun secara teratur yang mempunyai sistem. Ia berusaha meningkatkan pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan, yaitu seperangkat pengetahuan tentang satu obyek yang tersusun secara sistematis dengan mempertanggungjawabkan sebab-sebabnya.
Pada dasarnya ilmu mempunyai tujuan untuk mencari kebenaran, sehingga untuk mencapai kebenaran yang dimaksud dipakailah metode yang dikenal dengan metode ilmiah. Metode ini yang membedakan antara pengetahuan dan ilmu, dimana ilmu memerlukan jalan panjang yang harus dilalui dalam proses dari pengetahuan biasa menjadi pengetahuan ilmiah. Perumusan metode ilmiah pada umumnya melalui proses sebagai berikut:
a.      Pengumpulan data dan fakta
b.     Pengamatan data dan fakta
c.      Pemilihan data dan fakta
d.     Penggolongan data dan fakta
e.      Penafsiran data dan fakta
f.      Penarikan kesimpulan umum
g.     Perumusan hipotesia
h.     Pengujian hipotesis melalui riset, eksperimen
i.       Penilaian
j.       Perumusan teori ilmu pengetahuan
k.     Perumusan dalil atau hukum ilmu pengetahuan
Ilmu memiliki karakteristik tertentu yaitu hasil pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum tentang hal ikhwal yang diselidiki (objek) sejauh yang dapat dijangkau daya akal manusia melalui pengujian secara empiris, riset dan eksperimen. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa ilmu memiliki ciri-ciri rasional, komulatif, objektif, dan universal. Dengan ciri-ciri yang demikian dimana akal sebagai tumpuannya maka sudah tentu tidak semua persoalan manusia, khususnya ultimate problems bisa mampu dijawab oleh ilmu. Karena sejatinya pencapaian kebenaran ilmu itu tidaklah absolut melainkan nisbi.
Di  dunia  sains,  kebenaran  seluruhnya  tampak  bernilai  relatif  karena  sains  telah  membatasi  diri hanya menerima sumber kebenaran dari indera dan rasio yang juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Wajar jika kemudian perubahan yang terjadi secara terus-menerus  membuat manusia berpikir bahwa kebenaran di dalam sains pun terus berubah seiring waktu. Hanya saja, karakteristik kebenaran sains yang relatif ini tidak lantas berlaku untuk kebenaran-kebenaran di luar ranah sains yang  diperoleh  dari  sumber-sumber  di luar  indera  dan  rasio.  Sains  perlu  berhati-hati  untuk  tidak melakukan  over-generalisasi  dan  pemastian-pemastian di luar  batas  kemampuannya.  Lebih  jauh, karakteristik   relativitas   kebenaran   sains  ini  juga  bukan  menjadi   legitimasi   untuk  memaksakan kepada   manusia   untuk  menerima   semua   pandangan   sebagai   kebenaran,   karena   seperti   telah disebutkan sebelumnya, hanya pernyataan-pernyataan yang lebih mampu melukiskan kompleksitas realitas, lebih mampu menangkap aspek-aspek signifikan, lebih representatif, dan dapat dipertanggungjawabkanlah yang patut diterima sebagai kebenaran di dalam sains.


BAB III
PENUTUP

      3.1      Kesimpulan
1.     Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT, karena manusia manusia disempurnakan oleh akal pikiran yang tidak dimiliki oleh mahkluk hidup lainnya. Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha "memeluk" suatu kebenaran.
2.     Manusia sebagai makhluk pencari kebenaran, tentulah akan melakukan segalanya untuk mencapai kebenaran yang diinginkan, ada tiga cara manusia untuk mencari dan menemukan kebenaran yaitu: melalui pengetahuan, filsafat dan agama.

      3.2      Saran.
Kami sadar bahwa makalah yang kami buat masih jauh dari kesempurnaan, olehnya itu kami sangat memerlukan kritikan ataupun saran dari pembaca makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Alisjahbana, S. takdir, "Pembimbing ke Filsafat" dalam Anshari, Endang Saifuddin, Wawasan Islam: pokok-pokok pikiran tentang paradigma dan sistem islam, cet. I, (Jakarta: Gema Insani, 2004)

Anonim. (2015). Makalah Filsafat Pendidikan, [Online]. Tersedia: http://filsafat-dh.blogspot.co.id/2015/01/makalah-filsafat-pendidikan.html.

Hermawan.W. (2012). Makalah Filsafat Pendidikan, [Online]. Tersedia: http://wawanhermawan90.blogspot.co.id/2012/01/makalah-filsafat-pendidik an.html.

Osborne, Richard. 2001. Filsafat untuk Pemula. (diterjemahkan oleh P Hardono
Hadi). Yogyakarta: Kanisius.

Poedjawijatna. 1997. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta : PT Rineka
Cipta.

Setiardja, A.Gunawan.2005. Manusia dan Ilmu Telaah Filsafat atas Manusia yang Menekuni Ilmu Pengetahuan. Cetakan III. Semarang.

Susanto, Ahmad. 2011. Filsafat Ilmu Hlm. 85. Jakarta: PT. Bumi Aksara.